Potret Nynda Fatmawati Octarina, Pakar Medsos dan Hukum yang Terus Edukasi Masyarakat

Perkembangan teknologi yang terus maju sudah sewajarnya memberikan manfaat untuk hidup yang lebih baik. Sayang, terkadang penggunaan teknologi sering tidak disertai tanggungjawab.

Sudah banyak contohnya, para artis di Jakarta seringkali memenjarakan orang-orang yang berkomentar buruk di akun media sosial (medsos) mereka, Instragram misalnya.

Medsos juga sering jadi ajang penipuan sehingga marak berita ‘anak umur sekian di bawa lagi pacarnya yang kenal di Facebook’, atau masih banyak lagi penipuan di medsos lainnya jika tidak hati-hati dan disertai tanggungjawab.

Semua itu, kata Dr Nynda Fatmawati Octarina, SH MH adalah salah satu contoh menggunakan medsos yang tidak disertai tanggungjawab.

"Dan sebenarnya banyak sekali masyarakat kita yang tidak tahu bahwa hukum bermedsos itu ada dan berjalan. Medsos itu sebenarnya bentuk kehidupan bermasyarakat, namun dengan dimensi yang berbeda. Itu yang mau saya ingatkan,’ kata Nynda saat ditemui Surya.co.id di salah satu resto Hotel Garden Palace, Surabaya, Sabtu (8/9/2018).

Di Indonesia, lanjutnya, hukum UU ITE mungkin masih kurang detail dan terbatas. Salah satunya pengertian hoax, masih dalam pengertian dilarang menyebarkan berita bohong yang sifatnya merugikan konsumen.

Dia berharap pemerintah harus memastikan bahwa masyarakat masing-masing mendapatkan haknya.

Berarti hoax apa? Berita bohong atau belum tentu kebenarannya, idealnya pemerintah detail lagi kalau di UU ITE diatur pencemaran nama baik, penghinaan, dipenjelasannya.

Selama ini pemerintah mengembalikan UU ITE sesuai aturan KUHP, sehingga apa yang terjadi menyerang kehormatan seseorang di media sosial, definisi penghinaan, pencemaran nama baik, fitnah semua dikembalikan seperti di kehidupan nyata, pelaku kena KUHP.


"Masih ingat? Medsos sebagai pilar kelima demokrasi, pilar keempat pers, itu statemen dari Kominfo. Kalau memang medsos pilar kelima peraturannya harus jelas tidak boleh mendengarkan satu statemen (pihak pelapor saja)," terangnya.

Doktor lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya tahun 2017 ini mengungkapkan humor agar masyarakat tidak sembarangan menggunakan medsos.

Karena sebenarnya semua yang dilakukan di medsos tercatat jelas sekalipun akun privat.

"Jagalah jari anda karena lebih bahaya jari daripada mulut, kenapa? Karena jari lebih jauh dari otak," katanya bergurau disusul tawa kecil di bibirnya.

Banyaknya persoalan hukum di medsos membuat perempuan kelahiran Surabaya, 29 Oktober 1977 ini tak berdiam diri begitu saja.

Dia aktif menjadi pembicara di berbagai diskusi di layar kaca. Bahkan membuat Instagram pribadi @hukummediasosial, untuk mengenalkan hukum di kalangan masyarakat medsos, melalui video atau pemberitaan viral.

"Memang tidak mudah mengenalkan hukum ini, followers juga masih sedikit. Tapi saya berusaha terus mengedukasi masyarakat supaya mereka paham sehingga berhati-hati dalam aktivitasnya baik di kehidupan nyata atau pun medsos," ujar dosen sekaligus Direktur Pusat Studi dan Kajian Hukum Fakultas Hukum Universitas Narotama ini.


Berbicara soal bahaya medsos yang tak dibarengi dengan tanggung jawab, membuat Nynda ingat dengan konflik di Indonesia yang seringkali dimulai dari postingan di medsos.

Mantan News Anchor TVRI Jawa Timur dan Kompas Tv ini mengatakan medsos borderless, yan artinya apapun yang terjadi di medsos sangat mudah diketahui asing.

"Jangan biarkan mereka tahu kita punya konflik di dalam. Jaga martabat bangsa lewat medsos itu penting," tutupnya.

Ibu dua anak laki-laki M Anugrah dan Radhitya Gilang ini mengatakan orangtua berperan penting dalam pengetahuan anak-anak mereka.

Dia sendiri menyadari bisa tumbuh besar dan mengerti hukum karena turunan dari sang ibu, yang juga lulusan hukum, serta ayah yang membiasakan dia serta tiga saudara lainnya berpikir saat menyaksikan tayangan di televisi.

"Ya kami terbiasa membahas satu masalah usai menonton diskusi. Daya tahu orangtua hanya ingin mengetahui cara berpikir anak-anaknya. Makanya sejak saat itu harus update terus, kalau gak ada yang ngerti harus ditanyakan, sudah jadi tradisi,"akunya.

Selain pendidikan orangtua, sikap orangtua juga sangat berpengaruh untuk anak-anak. Nynda mengatakan dia meniru sang orangtua salah satunya dalam bersikap mengahdapi persoalan.

Tidak lantas marah dan meluapkan apapun di dalam isi hati, melainkan tenag terlebih dahulu sambil berpikir tindakan yang tepat yang harus dilakukan seperti apa. Hal ini tentu sama halnya dengan belajar ilmu hukum menurt Nynda.


Hidup Untuk Mengedukasi

Selain konsentrasi di bidang medsos dan hukum, Nynda mengaku fokus di segala bidang yang berhubungan dengan mengedukasi masyarakat luas.

Baginya hidup ini tidak bisa kalau hanya menyenangkan dan memuaskan diri sendiri.

Lima tahun terakhir Nynda memutuskan membentuk tim Public Relation yang berhubungan dengan dunia medis.

Bersama enam orang profesional di bidangnya, dia memberikan wadah kepada dokter untuk menyosialisasikan pengobatan apa saja yang bisa dilakukan di Indoensia tanpa harus ke luar negeri.

"Sayang sekali sekarang ini banyak masyarakat kita yang tidak tahu, bahwa pengobatan di negeri sendiri cukup bagus dengan dokter yang memiliki standar. Nah karena tidak tahu mereka lebih banyak memilih pengobatan di luar negeri, kita berdayakan dokter kita sendiri lah. Dan sebenanrrnya intinya hidupku edukasi," katanya.

Nynda mengaku terlebih dirinya memiliki banyak kenalan di bidang medis, maka kesempatan memberikan pengetahuan se luas-luasnya ke pada masyarakat juga bisa tersalurkan.

Di balik misi mulianya itu, Nynda mengaku saat ini masyarakat Indonesia masih kurang mengerti dalam hal kesehatan.

Menurutya masih banyak masyarakat yang menganggap sakit yang tidak parah awalnya, adalah hal remeh temeh. Padahal menjaga kesehatan itu kini sudah menjadi gaya hidup masyarakat di era modern.

"Jadi tim PR kami membantu menjembatani para dokter menyampaikan apa sih yang masyarakat perlukan. Khususnya untuk kasus-kasus tertentu, misalnya diabetes pengobatannya seperti apa, inovasi yang berkembang dalam penyembuhan seperti apa, serta banyak kasus lainnya, sehingga pasien datang ke dokter yang tepat dan cepat sembuh," tutupnya.


Sumber: https://surabaya.tribunnews .com/2018/09/09/potret-nynda-fatmawati-octarina-pakar-medsos-dan-hukum-yang-terus-edukasi-masyarakat