Keamanan yang Lulus Audit, Tapi Gagal Bertahan

Sebuah gambar beredar luas di media sosial: sebuah Jeep tampak gagah, menjulang dengan ban raksasa dan suspensi ekstrem. Dari kejauhan, kendaraan itu terlihat siap melibas medan apa pun. Namun ada satu detail kecil yang dilingkari tebal: ban serepnya. Kecil, standar, nyaris tak sebanding dengan ban utama yang menopang tubuh besar kendaraan itu. Gambar ini diberi teks singkat, nyaris sinis: “When your security posture strategy is only for compliance.”

Pesannya jelas—dan pedas. Banyak organisasi hari ini membangun keamanan bukan untuk bertahan dari serangan, melainkan sekadar untuk lulus pemeriksaan.

Di dunia siber, compliance telah menjelma menjadi tujuan akhir, bukan titik awal. ISO 27001, SOC 2, PCI-DSS, HIPAA, atau regulasi lokal dijalani seperti ritual tahunan. Dokumen disiapkan, kebijakan ditandatangani, bukti dikumpulkan. Auditor datang, checklist dicentang, sertifikat keluar. Selesai. Organisasi pun merasa aman.

Padahal, rasa aman itu sering kali semu.

Compliance sejatinya adalah standar minimum—ambang batas terendah agar sebuah sistem dinilai “layak”. Ia tidak dirancang untuk menghadapi skenario terburuk, tidak pula disusun berdasarkan cara penyerang berpikir. Compliance bicara tentang what should exist, bukan how it fails under pressure.

Seperti Jeep dalam gambar itu: secara administratif, kendaraan tersebut sah. Ban serep ada. Persyaratan dipenuhi. Namun ketika ban utama bocor di medan berbatu, ban serep kecil itu bukan penyelamat—melainkan penanda kegagalan.

Fenomena serupa jamak ditemui di organisasi modern. Firewall dipasang karena “wajib”, tetapi aturannya longgar. Multi-factor authentication diaktifkan, tapi hanya untuk akun admin, sementara akun pengguna biasa dibiarkan tanpa perlindungan. SIEM dibeli mahal, namun alarmnya tak pernah diawasi secara serius. Pentest dilakukan setahun sekali, laporannya tebal, temuan kritis dibiarkan mengendap hingga audit berikutnya.

Semua terlihat rapi di atas kertas. Semua memenuhi syarat. Tapi saat serangan sungguhan terjadi—ransomware menyebar, kredensial bocor, atau data pelanggan dieksfiltrasi—organisasi terkejut. “Kami sudah compliant,” kata mereka. Seolah penyerang peduli pada sertifikat.

Di sinilah kesalahpahaman mendasar terjadi. Keamanan siber bukan soal kepatuhan administratif, melainkan soal ketahanan. Bukan tentang apakah kontrol ada, tetapi apakah kontrol itu bekerja saat gagal, saat disalahgunakan, atau saat dilewati.

Compliance bersifat statis. Ancaman bersifat dinamis.

Penyerang tidak membaca kebijakan keamanan. Mereka membaca log yang lemah, konfigurasi yang keliru, dan asumsi yang tak pernah diuji. Mereka mencari celah di antara checklist, bukan di dalamnya.

Organisasi yang dewasa secara keamanan memahami ini. Mereka menggunakan compliance sebagai fondasi, bukan puncak. Di atasnya, mereka membangun pendekatan berbasis risiko dan ancaman nyata. Mereka bertanya: aset apa yang paling berharga? Skenario terburuk apa yang mungkin terjadi? Jika sistem ini gagal, apa dampaknya? Dan yang paling penting: apakah kami siap merespons, bukan sekadar mencegah?

Keamanan yang matang menerima kenyataan bahwa kegagalan tidak bisa dihindari. Maka fokusnya bergeser ke detection, response, dan recovery. Backup tidak hanya ada, tapi diuji. Incident response plan tidak hanya ditulis, tapi disimulasikan. Tim tidak hanya tahu prosedur, tapi pernah merasakannya dalam latihan yang tidak nyaman.

Jeep yang benar-benar siap off-road tidak hanya punya ban besar, tapi juga ban serep yang setara. Ia mengantisipasi kegagalan, bukan berpura-pura kebal.

Pada akhirnya, meme itu bekerja karena kejujurannya. Ia menertawakan obsesi kita pada penampilan dan simbol, sambil mengingatkan bahwa krisis selalu datang tanpa jadwal audit. Di saat itulah, semua lapisan kosmetik runtuh, dan yang tersisa hanyalah kesiapan nyata.

Compliance boleh membuat organisasi terlihat aman. Tapi hanya keamanan yang diuji, dipertanyakan, dan terus diperbaiki yang benar-benar membuatnya bertahan.


#CyberSecurity #InfoSec #ComplianceVsSecurity #RiskBasedSecurity #SecurityPosture #IncidentResponse #CyberResilience #AuditMindset #TempoStyle